Wednesday, July 21, 2010

Malu meminta, sesat di jalan.

Mendengar apa yang dibagikan di JUMP Sabtu yang lalu (Prayer of Jabez), membuat saya teringat tentang sebuah cerita luar biasa tentang seorang anak yang hilang. (Lukas 15:11-24)
Bermodalkan warisan yang diambil sebelum waktunya, sang anak bungsu pergi dari rumahnya dan berfoya-foya. Dia terus menghabiskan uangnya sampai suatu saat, dia tidak memiliki apa-apa lagi.

Saat ia benar-benar gak berdaya, dia memutuskan untuk PULANG ke rumah bapaknya. Dengan sejuta rasa bersalah dan rasa tak pantas, dia pulang dan memohon untuk dijadikan seorang upahan kepada bapaknya.

Kisah ini ditutup dengan sebuah tindakan yang fenomenal, "... Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia." Bukan hanya itu, sang Ayah membuat pesta besar dan si Bungsu memperoleh haknya kembali sebagai anak.

Seringkali kita salah melihat, siapa diri kita dihadapan Allah. Omongan orang-orang di sekitar kita membuat kita merasa tidak layak untuk datang kepada Bapa dan meminta.

Bagi orang-orang (bahkan ibunya sendiri), Yabes adalah kesakitan. Namun bagi Tuhan dia layak menerima semua hal yang ia doakan di hadapan Tuhan. (I Tawarikh 4:9-10)

Si Bungsu yang hilang, dianggap orang sebagai orang yang gak layak, hina, serakah, dll. Bagi si Bungsu, mungkin yang layak untuk ia terima hanya sebatas diangkan menjadi seorang upahan. Tapi bagi bapaknya dia tetaplah anaknya yang Ia kasihi. Dan ia tetap berhak atas semua yang bapaknya miliki.

Saya gak tahu apa yang orang lain katakan tentang kamu, tapi yang saya percaya bagi Tuhan kamu tetaplah anakNya, Tuhan mau kamu "pulang" dan tinggal dekat dengan Dia. Dan inilah janjiNya bagi kita:

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. (Yohanes 15:7)

rga